Bangunan peninggalan Ottoman yang masih berdiri bisa ditemukan jauh di luar perbatasan Turki modern, dari jembatan batu di Bosnia sampai benteng di tepi Laut Merah. Banyak di antaranya tidak lagi menjalankan fungsi aslinya, tetapi bentuk dan prasastinya masih memberi petunjuk tentang cara kekaisaran membangun kota. Daftar berikut menyoroti tujuh contoh yang mewakili rentang waktu dan wilayah kekuasaan Ottoman.
1. Jembatan Stari Most, Mostar
Jembatan lengkung tunggal di atas Sungai Neretva ini dibangun atas perintah Suleiman I dan selesai pada pertengahan abad ke-16. Perancangnya, Mimar Hayruddin, murid arsitek istana Sinan, merancang satu bentang batu selebar sekitar 29 meter tanpa penyangga di tengah.
Stari Most hancur dalam perang tahun 1990-an, lalu dibangun kembali dengan teknik dan bahan yang mengikuti bentuk aslinya. Jembatan ini menunjukkan bagaimana Ottoman memandang infrastruktur sebagai alat penghubung ekonomi, bukan sekadar bangunan teknis. Kota Mostar tumbuh di kedua sisinya karena lalu lintas dagang melewati titik itu.
2. Masjid Selimiye, Edirne
Karya Sinan yang selesai pada 1575 ini sering disebut sebagai puncak arsitektur masjid Ottoman. Kubahnya berdiameter sekitar 31 meter, ditopang delapan pilar besar, dengan empat menara ramping di sudut bangunan.
Yang membuat Selimiye berbeda dari masjid sebelumnya adalah susunan ruang dalamnya. Sinan memusatkan seluruh elemen, termasuk galeri dan jendela, agar pandangan jamaah mengarah ke satu titik di bawah kubah. Pembahasan lebih rinci soal pergeseran bentuk kubah dan penopangnya ada di artikel tentang evolusi arsitektur masjid Ottoman dari kubah ke kubah raksasa.
3. Benteng Rumeli Hisarı, Istanbul
Mehmed II membangun benteng ini dalam hitungan bulan sebelum pengepungan Konstantinopel pada 1453. Tiga menara utamanya berdiri di titik tersempit Selat Bosporus, sehingga kapal yang lewat bisa dihentikan dengan tembakan meriam dari kedua sisi.
Benteng ini jarang dipakai lagi setelah kota jatuh, tetapi tata ruangnya masih utuh. Menara utamanya kini difungsikan sebagai ruang pameran, sementara dinding luarnya menjadi salah satu titik pandang kota tua Istanbul.
4. Stasiun Kereta Haydarpaşa, Istanbul
Dibuka pada awal abad ke-20 sebagai ujung jalur kereta Baghdad, stasiun ini dirancang oleh arsitek Jerman dengan gaya neoklasik Eropa. Letaknya di sisi Asia Istanbul menjadikannya gerbang resmi kekaisaran ke wilayah Anatolia dan Timur Tengah.
Bangunan ini memperlihatkan sisi Ottoman yang jarang dibahas: modernisasi transportasi di akhir masa kekuasaan. Jalur kereta yang bermula dari sini mengubah cara orang dan barang bergerak di seluruh wilayah kekaisaran.
5. Masjid Al-Aqsa versi Suleiman, Yerusalem
Dinding kota Yerusalem yang berdiri sekarang dibangun ulang atas perintah Suleiman I pada abad ke-16, setelah berabad-abad dibiarkan rusak. Sebagian besar gerbang dan menara pengawas di sepanjang dinding berasal dari periode itu.
Di dalam kawasan Haram al-Sharif, Ottoman juga merenovasi beberapa bangunan dan menambah struktur pendukung. Jejak administratif dari pekerjaan ini bisa ditelusuri lewat prasasti dan catatan wakaf, seperti yang dijelaskan dalam panduan cara membaca prasasti Ottoman untuk menelusuri sejarah.
6. Jembatan Mehmed Paša Sokolović, Višegrad
Jembatan di atas Sungai Drina ini dirancang oleh Sinan dan selesai pada 1577, terdiri dari sebelas lengkung batu. Namanya diambil dari wazir besar yang memerintah pembangunannya, Mehmed Paša Sokolović, yang lahir di wilayah itu.
Jembatan ini tetap dipakai kendaraan dan pejalan kaki hingga sekarang. Struktur lengkungnya bertahan karena pemeliharaan berkala, dan cara perawatan bangunan tua semacam ini dibahas dalam uraian tentang langkah dokumentasi bangunan tua sebelum direnovasi.
7. Kereta Air Taksim, Istanbul
Sistem air Taksim dibangun pada abad ke-18 untuk mengalirkan air dari hutan di utara kota ke pusat permukiman. Jalur airnya terdiri dari saluran bawah tanah, terowongan, dan beberapa bangunan penampung yang tersebar di distrik Beyoğlu.
Sebagian jalur masih berfungsi, dan beberapa bangunan penampungnya kini menjadi ruang publik atau kafe. Sistem ini menunjukkan perhatian Ottoman pada pasokan air kota, hal yang jarang terlihat dari bangunan monumental saja.
Pola yang Terlihat dari Ketujuh Bangunan
Ada tiga hal yang berulang saat menelusuri bangunan peninggalan Ottoman. Pertama, banyak proyek besar dibangun untuk kepentingan lalu lintas, baik air maupun darat. Kedua, prasasti dan dokumen wakaf hampir selalu ada, dan keduanya menjadi kunci untuk mengetahui siapa yang membiayai pembangunan. Ketiga, fungsi bangunan berubah jauh lebih cepat daripada bentuknya.
Untuk pembaca yang ingin menelusuri langsung ke lokasinya, beberapa bangunan di atas bisa dimasukkan ke dalam rute perjalanan bertema. Panduan singkat untuk menyusun rute semacam itu ada di panduan pemula menelusuri jejak Ottoman di Turki.
| Bangunan | Lokasi | Perkiraan Abad |
|---|---|---|
| Jembatan Stari Most | Mostar, Bosnia | 16 |
| Masjid Selimiye | Edirne, Turki | 16 |
| Benteng Rumeli Hisarı | Istanbul, Turki | 15 |
| Stasiun Haydarpaşa | Istanbul, Turki | 20 |
| Dinding Kota Yerusalem | Yerusalem | 16 |
| Jembatan Mehmed Paša Sokolović | Višegrad, Bosnia | 16 |
| Sistem Air Taksim | Istanbul, Turki | 18 |
Ketujuh contoh ini bukan daftar lengkap. Di Kairo, Damaskus, dan kota-kota Balkan masih banyak bangunan serupa yang bertahan dengan tingkat pemeliharaan berbeda-beda. Usianya bukan yang terpenting; yang membuatnya berarti adalah cara bangunan itu masih dipakai atau dikunjungi sampai hari ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua bangunan ini masih berfungsi seperti saat dibangun?
Tidak. Stari Most dan Jembatan Sokolović masih dipakai untuk menyeberang, sementara Benteng Rumeli Hisarı dan sebagian bangunan sistem air Taksim kini berfungsi sebagai ruang pameran atau tempat umum. Stasiun Haydarpaşa juga sedang menjalani penataan ulang.
Mengapa banyak bangunan Ottoman berada di luar Turki?
Karena wilayah kekaisaran pernah mencakup Balkan, sebagian Timur Tengah, dan pesisir Afrika Utara. Proyek pembangunan dijalankan di wilayah-wilayah itu, terutama yang berada di jalur dagang atau dekat pusat pemerintahan lokal.
Apa yang bisa dipelajari dari prasasti pada bangunan ini?
Prasasti biasanya memuat nama pemesan, tahun pembangunan, dan kadang kutipan doa atau pujian. Dari situ peneliti bisa mengetahui siapa pejabat yang membiayai proyek dan pada masa pemerintahan siapa bangunan itu berdiri. Untuk bangunan yang tidak sepopuler masjid istana, prasasti sering menjadi satu-satunya sumber tertulis yang tersisa.
